Sunday, January 31, 2010

Belajar dari kisah Sri Mulyani


Tanah-air kita tercinta lagi gonjang-ganjing, khususnya dengan kasus bank Century. Terus-terang, saya termasuk salah satu pengagum Sri Mulyani. Meskipun saya bukan pengamat yang profesional, dan tidak terlalu terlibat perekonomian di Indonesia, tetapi dari jauhpun "tercium bau harum" pendekar perempuan kita ini. Bukan cuma saya, begitu banyak pengamat dan analis yang profesional memberi penilaian "best", lihat saja posting di salah satu blog ini. Emerging Market Newspaper dan Euromoney Magazine adalah institusi-institusi asing.

Bagaimana dengan di negara sendiri? Dalam bacaan Injil hari ini (Lk.4,22-30) ada disebut "Nabi tak ada yang diterima baik di negeri sendiri" dan tebersit juga pesan bahwa "Justru orang asing yang disembuhkan oleh para Nabi". Saya pikir, kalau pakai logika matematis, bolehlah saya simpulkan bahwa orang sendiri tak disembuhkan karena orang-orang itu tidak menerima Nabi yang adalah "orang di antara mereka". Saya sering mengatakan : "Tanpa iman, tak ada mujijat".

Saya tidak tahu, sampai kapan Sri Mulyani bertahan. Sebenarnya, dengan mata awampun kita bisa melihat bahwa banyak para pendemo tidak tahu menahu dengan masalah pokok. Wong saya aja ndak tahu, lho, apa masalah sebenarnya - yang kutahu hanya katanya, negara mengeluarkan uang untuk bailout bank, terusnya dan detailnya ku tak tahu.

Ketegaran Sri Mulyani memang menambah kekaguman saya. Manusia tidak ada yang sempurna, tetapi manusia dipanggil untuk saling menyempurnakan. Kalau dikorek-korek, ya siapa sih tidak punya kesalahan, kekurangan atau kegagalan. Banyak dokter yang meninggal karena penyakit, bahkan seorang dokter jantung meninggal karena sakit jantung dan seorang ahli kanker meninggal karena sakit kanker. KOK? Ya itulah tadi, seorang dokter pertama dan terutama dipanggil untuk menyembuhkan orang lain. Dan untuk bisa disembuhkan, pertama-tama harus ada kepercayaan bahwa dokter itu bisa menyembuhkan penyakit saya.

Seorang Sri Mulyani akan menjadi "mandul dan mubazir" kalau tidak dipercaya apalagi dirongrong seperti itu. Belum lagi ada yang bilang dengan sinis, "coba deh, kita lihat, apa negara kita bisa dibuat maju oleh si Sri Mulyani". Setelah seratus hari lewat, dia bilang lagi, "tuh, apa yang bisa dibuat?" Sinis, komentar aja, tidak mendukung, menunggu kegagalan (sambil membawa pistol siap menembak kalau lengah) sungguh sudah merupakan suatu kejahatan dalam organisasi - apalagi ditambah "demo" dan merongrong/perang psikologis. Saya tidak ingin mengkritik negara dan bangsa, terlalu besar ukurannya buat pengetahuan dan daya analisis saya yang hanya orang kecil ini. Saya cuma mau membawa ini ke permukaan untuk menjadi bahan refleksi kita-kita di institusi/ organisasi "kecil" yang perilakunya tidak terlalu berbeda dengan pola bangsa tercinta ini.

Lalu bagaimana kalau kita di-"Sri Mulyani"kan? Kalau saya sih, pingin belajar untuk bertahan dulu seperti Sri Mulyani dan kalau situasi ndak memungkinkan ya apa boleh buat, "tebaskan debu kakimu, dan berlalulah", artinya "Mujijat itu tidak bisa terjadi".

Setiap manusia diciptakan secara "mujijat" oleh Allah, dan karenanya setiap manusia dipanggil untuk berbuat "mujijat" yang menyelamatkan sesamanya. Yang ini sulit diterima? Perlu refleksi, teman!

1 comment:

  1. Nggak terlalu suli rasanya untuk menerima tulisan ini. Bertahan itu bukan suatu yang mudah apalagi bertahan utk sesuatu yang menyakitkan. Kita sama2 belajar

    ReplyDelete