Tuesday, January 5, 2010

NATAL !!



Hari Minggu kemarin, 3 Januari, saya berkunjung ke beberapa gereja, menikmati berbagai ekspresi Natal. Ada kandang sepi hening dan gelap, ada perkampungan seperti gambar di atas. Bahkan di pelataran basilika St. Petrus, kandang ada di perkampungan nelayan, lengkap dengan sampan, jaring, pukat dan ikan. (lihat di bagian kanan gambar di bawah ini)


Ada yang merasa aneh dengan kreasi yang satu atau yang lain. Tapi rasanya, semua cukup bisa mengerti arti kebebasan ber-ekspresi, maksudnya ber-ekspresi untuk menggambarkan suasana kelahiran Yesus dan juga ber-ekspresi untuk menyatakan ketidak-setujuan akan ekspresi orang lain. Ya, semua sah-sah saja sejauh tidak merusak secara fisik. Bagaimana dengan "pengrusakan non fisik", artinya yang mengganggu secara psikis atau spiritual? Di sini repotnya, karena ada-tidaknya dan juga kadar pengrusakan seperti itu sangat tidak konkrit dan tergantung pada person individu. Maksud dari person individu adalah konteks individu itu secara integral, bukan hanya kepribadian melainkan juga histori, lingkungan maupun situasi yang bersangkutan.
Sebaliknya, suatu dukungan psikis atau spiritual juga sangat tergantung dari person individu.

Orang yang ber-kebebasan, artinya menerima bahwa orang lain bebas ber-ekspresi, memang menjadi bebas. Dia tidak terganggu dengan adanya ekspresi yang tidak sesuai dengan pandangannya. Ya, kalau menurutnya bentuk kandang Natal di tepi pantai tidak cocok, dia tinggal ngeloyor aja pergi. Beres, kan? Tidak ada yang memaksa dia untuk memandangi barang itu.

Apakah memang beres? Menurut saya, bentuk perilaku seperti itu adalah suatu kemalasan. Dan kemalasan itu melahirkan kerugian. Ada dua langkah yang masih bisa dibuat untuk memperoleh "benefit" rohani. Satu, cobalah mencari tahu apa latar belakang ekspresi seperti itu, dan menarik nilai yang ditawarkan. Langkah berikutnya, biarkan inspirasi kita terbang melayang hingga lahirlah nilai-nilai baru, yang seringkali mengejutkan....

Mau tahu inspirasi saya saat ini, saat melihat "ikan di kandang Natal"? Saya teringat adu-kata mengenai penggelaran pahlawan bagi Gus Dur dan Soeharto. Untuk siapa sih, gelar itu diberikan? Untuk Gus Dur dan Soeharto? Atau untuk bangsa? Atau untuk kelompok tertentu?

Yesus kecil tidak butuh mas, mur dan kemenyan, apalagi ikan, sapi dan kambing. Tapi bagaimana kita bisa "belajar" dari ekspresi-ekspresi itu untuk mengikuti Dia.

Yakin deh, Gus Dur dan Soeharto di alam baka sana tidak butuh lagi gelar apapun. Yang penting adalah bagaimana kita sebagai bangsa belajar dari dua beliau tersebut, ikuti yang baik dan hindari apa yang kurang baik. Ya, kan? masak gitu aja ribut.

No comments:

Post a Comment