Tuesday, October 14, 2008

Kalau engkau tidak menjadi seperti anak-anak ....

Agak lama saya tidak menulis di blog ini. Ceriteranya, saya harus menyiapkan satu video clip untuk acara Minggu Misi di paroki. (akan saya pasang di blog ini kalau sudah siap versi flash-nya.)
Demikianlah, ketika sudah cukup siap, saya undang satu-dua saudari untuk melihat dan sedikit minta masukan. Video saya tidak banyak kata-kata, lebih pada ekspresi untuk tujuan refleksi. Jadi tidak ada keterangan "apa, kapan dan dimana terjadi" suatu keadaan. Saya heran, ketika semua yang melihat, selalu bertanya - ini di mana, ini apa, ini siapa dan sejenisnya. Hampir tak ada yang tersentuh oleh ekspresi situasi maupun persona yang ada di video. Mereka mau tahu sepertinya menonton suatu "dunia dalam berita" (karena video saya berisi berbagai situasi dunia). Salah satu usulan adalah memberi keterangan kejadian. Lucu (menurut saya)!!
Agak kecewa dengan masukan yang tidak saya harapkan, saya menyelesaikannya sendiri dan masih berharap bahwa dunia paroki akan lebih siap untuk refleksi.

Saya teringat pada cukup banyak saudari yang memasalahkan bahasa. Di sini kami berdoa bersama dalam bahasa Italia, meskipun dari 36 penghuni hanya dua orang yang berasal dari Italia - itupun mereka lahir dalam bahasa Jerman.
Banyak saudari yang menyatakan tidak bisa berdoa - rasa hambar - tak berarti, karena tidak mengerti apa yang didoakan. Merekapun cenderung memanfaatkan setiap kesempatan sekecil apapun untuk berdoa dengan bahasa yang mereka mengerti. Misalnya dengan kelompok di luar rumah. Jika mungkin, doa-doa bersama tertentu di-skip. Alasannya, wong ndak ngerti - tidak ada rasanya berdoa.
Sayapun ingat ketika masih kecil, saya ke Gereja tanpa mengerti apa-apa, tapi saya hafal doa-doa bahasa Latin - mulai Kyrie sampai Pater Noster dan bahkan Credo!! Waktu itu saya bisa menikmati berdoa, dengan serius ikut berdoa ordinarium Latin. Dan yang terpenting, saya bisa merasakan bertemu dengan Tuhan Yesusku.

Refleksi saya membawa pada karakter "anak-kecil" yang dicintai dan bahkan dikehendaki Allah untuk kita contoh dan kita internalisasi. Kita sebagai manusia masa kini terlalu pintar - kita mau mengerti dan dengan demikian mengontrol situasi. Doapun memilih kata-kata, sehingga kita merasa perlu meralat yang kita anggap tidak sip - atau tidak sesuai tata bahasa, meskipun doa sudah dihafal sekian juta orang. Kita sibuk mencari data dan kata sehingga kita menjadi tumpul dalam menangkap ekspresi, ya seperti nasib videoku itu!!

No comments:

Post a Comment