
Pagi itu saya duduk semeja dengan beberapa saudari untuk sarapan pagi. Seperti biasa, kami cari obrolan ringan yang cocok untuk semua usia - semua bangsa dan semua profesi, karena kami satu sama lain sangat berbeda usia, bangsa dan profesi. Seorang saudari diam membisu, dan setelah habis makanan di piringnya, dia senyum berkata, "bagi saya terlalu pagi untuk bicara..., saya mau permisi duluan". Tanpa maksud apa-apa, spontan saja saya jawab (di Eropa kan orang tidak basa-basi), "Oya, silakan, buona giornata (artinya: have a good day)". Tapi dia tidak langsung berdiri. Seorang saudari lain, seolah tidak peduli dengan "ungkapan permisi"-nya, terus saja menyerocos :"oya.. ya.. bagaimana kabarnya dengan urusanmu dengan kardinal X?" Di luar dugaan, saudari yang sudah pamit itu tiba-tiba bersemangat bicara buaanyaaaak banget sampai-sampai kami jadi yang terakhir meninggalkan ruang makan.
Sejenak saya mengambil waktu merenungkan peristiwa itu. Ada apa ya? Saya cukup kenal dengan saudari yang pamit itu, dia biasa bilang "ya untuk ya" dan "tidak untuk tidak", bukan orang tipe basa-basi. Saya yakin dia tidak basa-basi untuk pamit, dan dia juga tidak basa-basi bahwa "terlalu pagi untuk berbicara" (apalagi ngobrol, hehehe). Saya tahu dia orang yang "strict" dan memang biasa sarapan kilat. Tapi kok??? Sepertinya ada sesuatu yang mendesak di dada.
Akhirnya kesimpulan saya sederhana tapi penting dan mendesak. Kayaknya di jaman ini, dibutuhkan "telinga yang punya waktu untuk mendengar", yakni "telinga hati". Aneh juga di jaman penuh telpon seluler dan walkman ini kekurangan telinga. Cocoknya pemazmur hidup di jaman ini, "punya telinga tetapi tidak mendengar"... menyesal juga bahwa saya "tidak cukup mendengar" bahwa tetangga saya membutuhkan "telinga". Orang yang "strict" bisa butuh telinga juga lho!
Sejenak saya mengambil waktu merenungkan peristiwa itu. Ada apa ya? Saya cukup kenal dengan saudari yang pamit itu, dia biasa bilang "ya untuk ya" dan "tidak untuk tidak", bukan orang tipe basa-basi. Saya yakin dia tidak basa-basi untuk pamit, dan dia juga tidak basa-basi bahwa "terlalu pagi untuk berbicara" (apalagi ngobrol, hehehe). Saya tahu dia orang yang "strict" dan memang biasa sarapan kilat. Tapi kok??? Sepertinya ada sesuatu yang mendesak di dada.
Akhirnya kesimpulan saya sederhana tapi penting dan mendesak. Kayaknya di jaman ini, dibutuhkan "telinga yang punya waktu untuk mendengar", yakni "telinga hati". Aneh juga di jaman penuh telpon seluler dan walkman ini kekurangan telinga. Cocoknya pemazmur hidup di jaman ini, "punya telinga tetapi tidak mendengar"... menyesal juga bahwa saya "tidak cukup mendengar" bahwa tetangga saya membutuhkan "telinga". Orang yang "strict" bisa butuh telinga juga lho!
No comments:
Post a Comment