Malam ini, saya baru menyadari karena menemukan sendiri, bahwa ada "dead link" di salah satu website asuhan saya. Sedih dan menyesal, karena kesalahan itu sudah berjalan sejak bulan Juli yang lalu. Bayangkan, dua bulan lebih! Saya sedih dan menyesal membayangkan kekecewaan dari para pengunjung yang dari statistik saya kira sebulannya tidak kurang dari 600 pengunjung dan setidaknya 1000 kunjungan. Waktu itu saya memang amat sangat sibuk, sehingga melakukan update tergesa-gesa - dikejar dead line banyak tugas lain.
Saya mengasuh dua website yang sebenarnya saya lebih bertanggung-jawab masalah design dan teknis, sedangkan masalah isi mestinya tanggung-jawab person-person lain. Khususnya website yang baru saya bicarakan di atas, didukung oleh tim inti yang jumlahnya tak kurang dari 5 orang - plus pendukung-pendukung lain. Herannya, tak ada satupun anggota tim yang "tahu" kesalahan saya. Ini bukan kali pertama. Bahkan materi yang kupasang amat terlambatpun tidak mengundang komentar dan pertanyaan. Sepertinya ada ya baik, tidak ada ya baik juga. Salah satu persona otoritas pernah menyatakan hal itu secara terbuka, bahwa "I don't bother ...."
Saya tahu otoritas yang notabene menunjuk dan menugaskan saya tidak punya minat di bidang ini - kalau tidak boleh saya katakan tidak punya pengetahuan dan payahnya berat untuk berupaya tahu. Website bubarpun mungkin tidak ketahuan... hehe....
Kecewa? Lumayan. Putus asa? Tidak boleh! Saya tahu persis, untuk website utama yang saya asuh, saya punya pengunjung lebih dari seribu dalam sebulannya. Empat puluh persen pengunjung balik lagi. Apakah saya harus mengecewakan mereka? Saya memang tidak mengenal mereka satu persatu - dan mereka tidak mengenalku. Tapi saya mencintai mereka - tandanya saya tidak mau mengecewakan mereka, saya senang kalau bisa menyenangkan mereka. Meskipun ada juga yang kurang puas dengan website asuhanku, saya yakin cukup banyak yang mencintai websiteku - mencintai aku pula. Ya, kan? Cuma, "bercinta tanpa nama" itu tidak mudah.
Saya ingat adanya persona yang mau melakukan tugas hanya jika diminta langsung oleh otoritas, sehingga seringkali otoritas menjadi "tukang pos". Kelihatannya memang lucu. -mengada-ada Tapi saya sangat bisa mengerti - sangat manusiawi. Secara umum, manusia membutuhkan penghargaan. Saya masih beruntung bisa melihat statistik website saya.
Paling tidak saya tahu ada yang saya cinta dan mencintai saya. Tapi banyak yang nasibnya lebih kurang beruntung dariku. .... kerjaaa sendiriii... apalagi jika bidangnya kurang "konkrit" dan tidak diminati alias di-cuek-in atasan.
Anak membutuhkan perhatian guru atau orang-tuanya. Orang dewasa membutuhkan perhatian sesama apalagi yang memberinya tugas, kalau tidak boleh saya sebut pemimpin. Kalau guru hanya "menyapa" muridnya jika ia nakal - maka murid itu akan berbuat nakal, sekedar untuk "disapa". Kalau pemimpin hanya "menyapa" asuhannya hanya untuk memberi tugas, tentu saja asuhannya hanya mau bertugas kalau diberikan langsung oleh pimpinannya - juga sekedar untuk "disapa".
Memang, setiap tugas bukan untuk pemimpin melainkan untuk sesama, istilah spiritualnya untuk Kerajaan Allah. Dan kita kan tidak layak "menghujat" apalagi "mempertobatkan" pemimpin. Bisa kualat. Maka marilah kita cari saja di mana Allah yang Empunya Kerajaan itu.
Allah punya "nama", kan? Kala saya kecewa, saya buka statistik website saya... maka hatiku terhibur. Saya bisa melihat Allah yang kucintai di sana. Mana tahan untuk mencinta tanpa nama ....... Buat yang harus mencintai tanpa nama, pesanku, carilah "nama" itu!! Allah punya nama, kok. Yakin, deh!
Saya mengasuh dua website yang sebenarnya saya lebih bertanggung-jawab masalah design dan teknis, sedangkan masalah isi mestinya tanggung-jawab person-person lain. Khususnya website yang baru saya bicarakan di atas, didukung oleh tim inti yang jumlahnya tak kurang dari 5 orang - plus pendukung-pendukung lain. Herannya, tak ada satupun anggota tim yang "tahu" kesalahan saya. Ini bukan kali pertama. Bahkan materi yang kupasang amat terlambatpun tidak mengundang komentar dan pertanyaan. Sepertinya ada ya baik, tidak ada ya baik juga. Salah satu persona otoritas pernah menyatakan hal itu secara terbuka, bahwa "I don't bother ...."
Saya tahu otoritas yang notabene menunjuk dan menugaskan saya tidak punya minat di bidang ini - kalau tidak boleh saya katakan tidak punya pengetahuan dan payahnya berat untuk berupaya tahu. Website bubarpun mungkin tidak ketahuan... hehe....
Kecewa? Lumayan. Putus asa? Tidak boleh! Saya tahu persis, untuk website utama yang saya asuh, saya punya pengunjung lebih dari seribu dalam sebulannya. Empat puluh persen pengunjung balik lagi. Apakah saya harus mengecewakan mereka? Saya memang tidak mengenal mereka satu persatu - dan mereka tidak mengenalku. Tapi saya mencintai mereka - tandanya saya tidak mau mengecewakan mereka, saya senang kalau bisa menyenangkan mereka. Meskipun ada juga yang kurang puas dengan website asuhanku, saya yakin cukup banyak yang mencintai websiteku - mencintai aku pula. Ya, kan? Cuma, "bercinta tanpa nama" itu tidak mudah.
Saya ingat adanya persona yang mau melakukan tugas hanya jika diminta langsung oleh otoritas, sehingga seringkali otoritas menjadi "tukang pos". Kelihatannya memang lucu. -mengada-ada Tapi saya sangat bisa mengerti - sangat manusiawi. Secara umum, manusia membutuhkan penghargaan. Saya masih beruntung bisa melihat statistik website saya.
Paling tidak saya tahu ada yang saya cinta dan mencintai saya. Tapi banyak yang nasibnya lebih kurang beruntung dariku. .... kerjaaa sendiriii... apalagi jika bidangnya kurang "konkrit" dan tidak diminati alias di-cuek-in atasan.
Anak membutuhkan perhatian guru atau orang-tuanya. Orang dewasa membutuhkan perhatian sesama apalagi yang memberinya tugas, kalau tidak boleh saya sebut pemimpin. Kalau guru hanya "menyapa" muridnya jika ia nakal - maka murid itu akan berbuat nakal, sekedar untuk "disapa". Kalau pemimpin hanya "menyapa" asuhannya hanya untuk memberi tugas, tentu saja asuhannya hanya mau bertugas kalau diberikan langsung oleh pimpinannya - juga sekedar untuk "disapa".
Memang, setiap tugas bukan untuk pemimpin melainkan untuk sesama, istilah spiritualnya untuk Kerajaan Allah. Dan kita kan tidak layak "menghujat" apalagi "mempertobatkan" pemimpin. Bisa kualat. Maka marilah kita cari saja di mana Allah yang Empunya Kerajaan itu.
Allah punya "nama", kan? Kala saya kecewa, saya buka statistik website saya... maka hatiku terhibur. Saya bisa melihat Allah yang kucintai di sana. Mana tahan untuk mencinta tanpa nama ....... Buat yang harus mencintai tanpa nama, pesanku, carilah "nama" itu!! Allah punya nama, kok. Yakin, deh!
No comments:
Post a Comment