
Akhirnya, saya menyelesaikan membaca buku "The Ecstasy and the Agony" karangan Irving Stone - sebuah buku biografi Michaelangelo Buonnarotti, pelukis- pemahat- penulis puisi dan arsitek Italia di abad ke 16.
Ketika sedang membacanya, saya merencanakan menulis "buah-buah" yang saya dapatkan dari buku ini. Tetapi setelah buku habis kubaca, saya bingung bagaimana dan apa yang harus kutulis. Sejarah hidup Michaelangelo begitu hebat - sehebat orangnya. Dia bahkan mendapat sebutan "Divine Michaelangelo Buonarotti" pada saat hidupnya. Banyak hal saya bisa belajar dari hidupnya. Dalam post saya kali ini saya hanya bisa menuliskan kesimpulan saya, bahwa "Kalau Tuhan mau ..... jadilah ...."
Kuingat diriku yang menjelang setengah abad hidup di muka bumi ini, yang merasa sudah waktunya untuk "give up" atas semua talentaku yang "tidak sempat terpakai" - bahkan sering mengarahkan pikiran dan harapan pada masa depan just to grow old peacefully and finally go to our Father house also peacefully.
Michaelangelo sendiri harus membuang banyak waktu, tenaga dan pikiran karena "dipermainkan" para pembesar (maaf, para Paus) saat itu. Sekali tempo ia harus membuka tambang sendiri demi menuruti perintah Paus yang hanya menghendaki marmer dari tempat itu. Pada jaman itu dengan tenaga manusia dan hewan, jangan bayangkan bisa cepat. Setelah menghabiskan waktu dalam hitungan tahun, pesanan batal. Bayangkan!!
Tapi, Tuhan memang telah memilih dan memberinya talenta secukupnya - maka Tuhan selalu menyertainya dengan mujijat-mujijatNya. Pernah satu kali, dia dituntut ke pengadilan karena tidak memenuhi kontrak - padahal itu karena perintah Paus. Kontrak itu dengan Paus Julius II dan ketika Paus Julius II meninggal, Paus baru memerintahkan untuk mengerjakan pesanan baru dan mengabaikan pesanan Paus Julius II. Ketika kemudian bertahta Paus yang lain, yang mendukung ahli waris Paus Julius II, maka datanglah musibah itu terhadap Michaelangelo. Dia sudah di ujung tanduk,.... eee Sang Paus meniggal... begitu Tuhan menyelamatkan .... kalau Tuhan mau .....
Masa itu, umur harapan hidup manusia belum sepanjang sekarang. Teman-teman dan bahkan para saudara Michaelangelo meninggal lebih dulu, kecuali ayahnya yang meninggal pada hari ulang tahunnya yang ke 90. Bahkan ketika ada wabah, adik Michaelangelo terkena - tidak ada orang berani mendekat siapapun yang terkena - tetapi Michaelangelo mendampingi adiknya, merawat dan bahkan setelah meniggal ia menguburkan adiknya sendiri - menggali kubur dan menutupnya dengan tanah setelah diberkati imam. Dia mengira dirinya akan segera ikut terjangkit wabah dan mati, tapi .... kalau Tuhan mau ......
Puncak "kemenangan" Michaelangelo baru mulai setelah usianya mencapai kepala enam, yakni pada saat ia pindah ke Roma yang terakhir kalinya. Dia sudah merasa lemah dan meragukan kemampuannya untuk memenuhi pesanan Paus untuk melukis "Pengadilan Terakhir" pada dinding altar Kapel Sistin. Tetapi ... kalau Tuhan mau .... Entah angin dari mana mengenainya .... Michaelangelo jatuh cinta. Cinta ini membuat dia bersemangat dan hidup ... sehingga dia bukan saja menyelesaikan lukisan Pengadilan Terakhir tetapi banyak lain, termasuk banyak puisi dibuatnya.
Michaelangelo adalah orang yang sangat jujur. Tetapi biasa, orang jujur selalu mempunyai banyak musuh. Celakanya, musuh orang jujur selalu orang yang jahat dan biasanya kejam. Pembangunan basilika St. Peter tidak berjalan karena kejahatan para arsiteknya. Kalau Michaelangelo mencoba mengungkapkannya, dia selalu dianggap berambisi untuk merebut pekerjaan sebagai arsitek untuk St. Peter. Padahal Michaelangelo tidak berharap demikian. Tetapi sekali lagi, kalau Tuhan mau .... pada usianya yang berkepala delapan, Paus menunjuknya untuk menangani basilika St. Peter. Demikianlah, karyanya yang terakhir adalah mendesign kubah St. Peter.
Michaelangelo sangat berharap ia bisa melihat selesainya basilika St. Peter. Menurut perhitungannya, ia harus hidup sampai usia 95 untuk itu. Katanya dalam hati, ayahnya bisa hidup sampai 90 tahun - apakah ia tidak bisa lebih 5 tahun dari sang ayah? Tetapi kalau Tuhan mau .......... Michaelangelo meninggal dunia dengan tenang dua minggu sebelum ulang-tahunnya yang ke 90, setelah dia menyelesaikan model untuk kubah St.Peter dan fondasi kubah sudah dibangun dan dengan demikian ia yakin kubah itu akan dibangun sesuai designnya. Karena telah banyak usaha para musuhnya untuk mengganti design Michaelangelo - disamping usaha menyingkirkan Michaelangelo sebagai arsitek basilika.
Sekali lagi, kalau Tuhan mau .... sebagaimana Kitab Suci mengatakan bahwa Tuhan tak akan membiarkan air hujan jatuh ke tanah dan lenyap tanpa menyuburkan tanah .............
Buatku, apakah Michaelangelo grew old peacefully? Entahlah, yang jelas sampai akhir hayatnya dia di-"iting-iting" para musuhnya dan jangan tanya lagi berapa kali difitnah dan diserang. Apakah Michaelangelo died peacefully? Ya, karena dia sudah menyelesaikan tugasnya ...
Kuingat diriku yang menjelang setengah abad hidup di muka bumi ini, yang merasa sudah waktunya untuk "give up" atas semua talentaku yang "tidak sempat terpakai" - bahkan sering mengarahkan pikiran dan harapan pada masa depan just to grow old peacefully and finally go to our Father house also peacefully.
Michaelangelo sendiri harus membuang banyak waktu, tenaga dan pikiran karena "dipermainkan" para pembesar (maaf, para Paus) saat itu. Sekali tempo ia harus membuka tambang sendiri demi menuruti perintah Paus yang hanya menghendaki marmer dari tempat itu. Pada jaman itu dengan tenaga manusia dan hewan, jangan bayangkan bisa cepat. Setelah menghabiskan waktu dalam hitungan tahun, pesanan batal. Bayangkan!!
Tapi, Tuhan memang telah memilih dan memberinya talenta secukupnya - maka Tuhan selalu menyertainya dengan mujijat-mujijatNya. Pernah satu kali, dia dituntut ke pengadilan karena tidak memenuhi kontrak - padahal itu karena perintah Paus. Kontrak itu dengan Paus Julius II dan ketika Paus Julius II meninggal, Paus baru memerintahkan untuk mengerjakan pesanan baru dan mengabaikan pesanan Paus Julius II. Ketika kemudian bertahta Paus yang lain, yang mendukung ahli waris Paus Julius II, maka datanglah musibah itu terhadap Michaelangelo. Dia sudah di ujung tanduk,.... eee Sang Paus meniggal... begitu Tuhan menyelamatkan .... kalau Tuhan mau .....
Masa itu, umur harapan hidup manusia belum sepanjang sekarang. Teman-teman dan bahkan para saudara Michaelangelo meninggal lebih dulu, kecuali ayahnya yang meninggal pada hari ulang tahunnya yang ke 90. Bahkan ketika ada wabah, adik Michaelangelo terkena - tidak ada orang berani mendekat siapapun yang terkena - tetapi Michaelangelo mendampingi adiknya, merawat dan bahkan setelah meniggal ia menguburkan adiknya sendiri - menggali kubur dan menutupnya dengan tanah setelah diberkati imam. Dia mengira dirinya akan segera ikut terjangkit wabah dan mati, tapi .... kalau Tuhan mau ......
Puncak "kemenangan" Michaelangelo baru mulai setelah usianya mencapai kepala enam, yakni pada saat ia pindah ke Roma yang terakhir kalinya. Dia sudah merasa lemah dan meragukan kemampuannya untuk memenuhi pesanan Paus untuk melukis "Pengadilan Terakhir" pada dinding altar Kapel Sistin. Tetapi ... kalau Tuhan mau .... Entah angin dari mana mengenainya .... Michaelangelo jatuh cinta. Cinta ini membuat dia bersemangat dan hidup ... sehingga dia bukan saja menyelesaikan lukisan Pengadilan Terakhir tetapi banyak lain, termasuk banyak puisi dibuatnya.
Michaelangelo adalah orang yang sangat jujur. Tetapi biasa, orang jujur selalu mempunyai banyak musuh. Celakanya, musuh orang jujur selalu orang yang jahat dan biasanya kejam. Pembangunan basilika St. Peter tidak berjalan karena kejahatan para arsiteknya. Kalau Michaelangelo mencoba mengungkapkannya, dia selalu dianggap berambisi untuk merebut pekerjaan sebagai arsitek untuk St. Peter. Padahal Michaelangelo tidak berharap demikian. Tetapi sekali lagi, kalau Tuhan mau .... pada usianya yang berkepala delapan, Paus menunjuknya untuk menangani basilika St. Peter. Demikianlah, karyanya yang terakhir adalah mendesign kubah St. Peter.
Michaelangelo sangat berharap ia bisa melihat selesainya basilika St. Peter. Menurut perhitungannya, ia harus hidup sampai usia 95 untuk itu. Katanya dalam hati, ayahnya bisa hidup sampai 90 tahun - apakah ia tidak bisa lebih 5 tahun dari sang ayah? Tetapi kalau Tuhan mau .......... Michaelangelo meninggal dunia dengan tenang dua minggu sebelum ulang-tahunnya yang ke 90, setelah dia menyelesaikan model untuk kubah St.Peter dan fondasi kubah sudah dibangun dan dengan demikian ia yakin kubah itu akan dibangun sesuai designnya. Karena telah banyak usaha para musuhnya untuk mengganti design Michaelangelo - disamping usaha menyingkirkan Michaelangelo sebagai arsitek basilika.
Sekali lagi, kalau Tuhan mau .... sebagaimana Kitab Suci mengatakan bahwa Tuhan tak akan membiarkan air hujan jatuh ke tanah dan lenyap tanpa menyuburkan tanah .............
Buatku, apakah Michaelangelo grew old peacefully? Entahlah, yang jelas sampai akhir hayatnya dia di-"iting-iting" para musuhnya dan jangan tanya lagi berapa kali difitnah dan diserang. Apakah Michaelangelo died peacefully? Ya, karena dia sudah menyelesaikan tugasnya ...
No comments:
Post a Comment