
Bacaan Kitab Suci : Mk.14,32-42; Lk.22,40-46
Dengan menerima keputusan Bapa, Yesus menerima semuanya. Suka-cita tak akan datang tanpa "Passion" dan penderitaan.
Catatan saya sendiri :
Sulit untuk menterjemahkan kata "passion" dalam bahasa Indonesia. Kalau kita buka kamus, kita temukan passion = hasrat. Kalau bicara soal Injil, passion Kristus sering diartikan penderitaan penyaliban Kristus. Ketika saya "google", wikipedia mengatakan bahwa kata passion berasal dari bahasa Latin "patior" berarti menderita, berkanjang - lihat lebih banyak di link ini ; Brian Norris menjelaskan istilah passion cukup bagus, lihat di situsnya ini. So, passion bukan sekedar berarti penderitaan/ penyaliban Yesus.
Passion Kristus bukan hanya 24 jam disiksa dan disalibkan; ini adalah pengertian passion yang sangat sempit dan kabur. Passion adalah suatu proses panjang.
Kita tidak boleh mengurangi nilai penderitaan menjadi kesedihan. Compassion (com+passion, dalam bahasa Indonesia berarti belas kasih) tidak sama dengan rasa kasihan. Kita tidak perlu mengasihani Yesus, Dia melakukan semuanya dengan kebebasan.
Passion Yesus bertumbuh bersamaan dengan pengalaman kemanusiaannya, bukan hanya muncul pada akhir masa hidupNya di dunia. Seluruh waktuNya di dunia adalah suatu "passion" - sepenuhnya berbagi dengan kita.
PassionNya dilatar-belakangi kerinduanNya untuk setia kepada BapaNya, setia kepada misi BapaNya. Kesetiaan dan ketulusan memang akan membawa kita dalam masalah. Jika kita berjuang untuk suatu nilai, kita menderita. Bagaimana kita melihat situasi ini? Lari dari penderitaan dan kesulitan adalah suatu pengkhianatan terhadap kehendak Allah. Yesus melepaskan kesuksesan pintas, tetap bertahan dalam kehendak BapaNya.
Penolakan terhadap Yesus sangat kuat dan mereka terus bertumbuh. Orang-orangNya perlahan-lahan meninggalkanNya. Yesus hanya mempunyai sekelompok kecil pengikut dalam penderitaanNya. Demikian pula, jika engkau mengungkapkan keyakinanmu, engkau dapat kehilangan pengikut. Dengan pengikut yang menjadi sedikit, Yesus perlahan-lahan menjadi tidak populer. Yesus tahu, dalam estimasi manusiawi, misiNya gagal total, tetapi Dia tetap bertahan dengan misi itu. JalanNya menjadi sempit, curam ke arah kematian. Namun ke dua belas rasul tetap bersama Dia !!
Yang paling menyakitkan adalah pada perjamuan terakhir ketika si pengkhianat masih bersamaNya. Penderitaan itu menyakitkan.
Perlahan-lahan Dia merasakan perpisahan dengan para muridNya. Ketika semua OK, kita dapat dengan gampang berkata seperti Petrus.
Dua kelompok yang selalu bertikai, Farisi dan Saduki, bersekutu untuk menolak Tuhan Raja. Mereka menolak Yesus dalam nama Tuhan. Berapa banyak kali tanpa kita sadari, kita menyalibkan Yesus dalam nama Tuhan? Jika kita mempunyai otoritas, kita harus berhati-hati. Setiap musuh Yesus menaruh Tuhan sebagai pendukung kedudukannya. Mereka membangun kerajaan mereka sendiri. Kita membutuhkan suatu disermen yang tepat.
Meditasi atas passion Yesus adalah untuk menemukan dosa di dalam diriku. Saya sebagai bagian dari dunia yang berdosa. Saya akan menemukan konflik antara misiku dan hidupku. Saya harus mengikuti Yesus secara penuh, tidak mencari pendukung alternatif lain kecuali Allah.
Bagaimana pengalaman hidup saya dalam melintasi kegelapan?
Jika saya mengalami kesulitan, apa reaksi saya? Apakah saya berpegang pada Allah dan janji-janjiNya atau pertahanan hidup logis manusiawi saya?
Ketika ajaran Yesus dirasa keras, para pengikutNya meninggalkanNya. Dapatkah saya mengatakan bahwa saya tidak termasuk di antara mereka?
Jika saya tidak mengerti krisis dan penderitaan, tidakkah saya mengabaikan Allah dan mengikuti logika kemanusiaan saya?
No comments:
Post a Comment