Perhatikanlah lagu alleluia berikut ini:
Saya menyanyikannya dua kali. Bisa melihat bedanya? Yang mana yang benar? Tentu saja yang pertama. Bukan hal yang sulit kan?
Di rumah kami, orang biasa menyanyikannya dengan cara yang kedua, yang salah. Lama-lama saya jadi risih.
Suatu saat, saya menunjukkan not kepada pemimpin menyanyi saat liturgi. Maksudnya, supaya dia menyanyi dengan benar dan tentu saja keras, dan umat akan mengikutinya.
Apa yang terjadi? Dia memang menyanyi keras, tapi yang tidak benar. Umatpun mengikut, keras dan... tetap salah. Saya sendiri mempunyai suara keras, saya berusaha untuk menyanyi dengan benar dan keras tetapi apa boleh buat, tidak mampu mengalahkan "suara massa".
Tidak puas, saya meminta "pelatih" latihan menyanyi untuk membenarkannya. Maka kemarin, kami latih satu baris melodi di atas. Dan tadi pagipun kami menggunakannya saat Misa Kudus. Apa yang terjadi? Tetap salah... pemimpin nyanyi beserta umatnya menyanyi dengan keras, mantap dan .... tetap salah.
Apa yang harus dilakukan? Dua kemungkinan. Pertama, not diubah disesuaikan melodi yang "sudah mengakar", atau kedua, latihan dan latihan ... sampai hafal.
Peristiwa sederhana ini begitu jelas menggambarkan pola "learning" kita. Bahwa "unlearning" jauh lebih sulit daripada "learning". Nah, kalau mau gampang, daripada sulit-sulit unlearning, lebih baik "kebenaran" itu disesuaikan. Alasannya? Toh hal kecil, .... banyak kok alasan bisa dipakai untuk pembenaran... namanya aja penyesuaian, bukan penyelewengan lho ....
No comments:
Post a Comment