Wednesday, August 5, 2009

Masih hari 6: Hidup religius sebagai pemuridan dalam Kerajaan Allah


Bacaan Kitab Suci : Mk.1,16-20; Lk.14,25-35; Ph.2,6-11

Mengikuti Yesus merupakan panggilan umum. De facto, itu adalah identitas orang Kristiani; yang disebut Cristo centris, maksudnya "selalu digerakkan dan dibimbing oleh Roh Kristus.

Namun, ada suatu jalan radikal untuk mengikuti Yesus, yakni hidup religius. Hidup religius adalah suatu pilihan, jadi tidak memberikan privilege (keistimewaan) apapun.

Pada jaman hidup Yesus dulu, ada kelompok-kelompok lain yang mengikutiNya tetapi tidak pernah menjadi muridNya, misalnya saja Lazarus yang demikian dekat dengan Yesus. Para pengikut seperti itu tidak mempunyai komitmen penuh.

Para murid Yesus membentuk komunitas apostolik. Apa yang membuat mereka "menjadi" murid? Sequilla Cristi, yakni melepas segala sesuatu dan hanya Kristus dalam hidupnya.
Apa pula yang membuat mereka bertahan dalam panggilan mereka? Kristus dan RohNya. Jadi, panggilan itu bukanlah penyucian pribadi, melainkan "menyerah total demi Kerajaan Allah".

Tarekat-tarekat religius mempunyai peranan khusus dalam Gereja, tidak bisa digantikan oleh awam. Awam tidak bisa menggantikan religius, karena bentuk hidup mereka - betapapun besarnya dedikasi mereka.

Tarekat religius mempunyai peranan korektif dalam masyarakat. Kehadiran mereka adalah sebuah tantangan. "Mengapa orang-orang ini tidak seperti yang lain?" Peranan korektif mereka adalah suatu "shock treatment dari Roh Kudus" melawan situasi berbahaya yang patut dipertanyakan. Mereka memikul suatu kenangan berbahaya. Tarekat religius selalu menjadi tantangan dan menawarkan kesempatan kepada Gereja.

Sebagai suatu institusi, tarekat religius merupakan tanda karismatis dari Gereja. Adalah penting bahwa tarekat religius seharusnya dianimasi oleh Roh Yesus, bukan oleh ide-ide manusiawi. Roh Kudus tahu kemana, dan kapan mulai - sampai kapan bertiup. Maka kita seharusnya tidak khawatir/ nervous jika masa depan kita seakan suram.

Dalam Kerajaan Allah tidak ada sukses ataupun gagal. Allah- adalah protagonisnya. Hukum sejati tidak mempunyai kegagalan. Kita semua adalah co-workers Kristus, mempunyai misi yang bukan milik kita. Kita harus bersikap sebagaimana dalam Injil: "Kami hanyalah hamba-hamba ...."

The Art of Dying (Seni menuju kematian) = Ars Moriendi, adalah suatu ekspresi tanda kehidupan Roh Kudus. Jika tunai sudah tugas, kita harus siap untuk mati. Mati dengan kemuliaan dan ketulusan. Sebuah tarekat religius yang tidak belajar "Ars Moriendi" tidak akan pernah beradaptasi pada situasi baru.

Pada kenyataannya, The Art of Dying adalah satu jalan dari The Art of Living (Seni hidup), Ars Vivendi. Jika Roh menghendaki kita untuk terus, kita harus melakukannya.
Apa yang hendak dikatakan Roh? Kita harus hidup sesuai inspirasi dari Roh, dan ini kita harus belajar dari Yesus sendiri. Lihat Ph.2,6-11

Pertanyaan-pertanyaan refleksi:
  1. Dengan jalan apa saya dapat mengatakan bahwa hidup saya adalah mengikuti Yesus secara radikal?
  2. Apakah saya prihatin akan masa depan Kongregasi saya?
  3. Apakah saya melakukan disermen untuk Kongregasi saya? Apa yang dikehendaki Allah? Apakah saya bisa menyerah terhadap kehendak Allah, meskipun untuk mati?

No comments:

Post a Comment