
Bahan Kitab Suci : Jn.20,1-10; Lk.24,13-35
Bagi kita, Kebangkitan berarti Allah selalu hidup. Ini adalah lambang harapan, sebagai peneguh iman bahwa hidup tidak berakhir dengan kematian. Untuk itu Yesus hidup, mati, dan kemudian bangkit, semuanya bagi kita. Semua yang dilakukan Allah, adalah untuk kita.
Kebangkitan adalah babak baru hidup Yesus, suatu "happy end", jaminan akhir bahwa semuanya tidak begitu saja terjadi. Hidup kita tidak akan berakhir dengan penderitaan/ kesulitan, jika kita berpegang pada Kristus, kita akan bangkit bersamaNya suatu saat kelak.
Kebangkitan berarti pewahyuan penuh Allah atas makna hidup kita, bahwa kita diciptakan untuk keabadian. Dengan adanya kesadaran baru, ada makna baru dalam hidup para murid.
Ketika Yesus bangkit, tidak ada seorangpun yang melihat bagaimana Dia bangkit dari kematian. Dan kemudian, mereka tidak melihat Dia, tetapi mengenali Dia. Kebangkitan mengubah perspektif (Mt.25:31). Sebagai murid, kita harus bisa mengenali Dia dalam setiap situasi hidup sehari-hari.
Semua kejadian mendapat makna baru jika kita merefleksikan hidup dengan kesadaran baru sebagai muridNya. Paska mengundang kita untuk memperdalam pengertian kita, demi misi.
Kesadaran membawa kepada ke-serius-an. Pada murid menciptakan komunitas baru sebagai kelanjutan dari misi.
Dengan kematian Yesus, misi berlanjut dengan cara baru, yakni Yesus sebagai Emmanuel, selalu beserta kita. Kita harus berpegang pada Yesus, pada misiNya; kalau tidak, kita hanya menjadi pekerja sosial. Allah bekerja dalam keheningan, dan kita dapat masuk ke dalamnya dalam doa dan keheningan.
Para murid melanjutkan kehidupan sehari-hari mereka, tetapi kesadaran baru membuat mereka berbeda, yakni misi Yesus.
Kita tidak perlu cemas akan "dipandang buruk". Jika kasih yang membimbing kita untuk bertindak, namun orang lain tidak mengenalinya, maka kita seharusnya berbahagia. Sebaliknya, kita harus berhati-hati. Kita harus selalu memeditasikan kehadiran Allah dalam hidup kita.
Apakah rahasia/ di segi manakah, maka hidupku mengekspresikan kehadiran Allah?
Apakah orang lain dapat melihat kita sebagai suatu kelompok yang menghadirkan Allah kita?
"We receive what we give"
Apakah Paska bagimu? Apa yang seharusnya?
Apakah hidupku merupakan ekspresi harapan bagi sesama?
Dapatkah mereka melihat Allah yang hidup dalam hidup dan pelayananku?
No comments:
Post a Comment