Tuesday, July 15, 2008

penindasan orang-orang pintar

Kemarin, boss berdiri mengumumkan akan ada power point presentation dari dua CD yang dia bawa. Saat itu pula beliau memberikan CD kepada saya untuk menyiapkan pelaksanaannya. Saya jawab, ini bukan power point presentation, ini kumpulan gambar. Kalau mau dibuat slide show, saya harus "berbuat sesuatu" dulu.
Begitulah, ini bukan yang pertama. Transfer dari format satu ke format yang lain dari multimedia secara terburu-buru dan mendadak, sudah menjadi "makanan" saya. Saya harus siap sedia menghadapi "on the spot instruction" seperti itu. Tanpa ada yang mengerti, bahkan hampir tak ada yang MAU mendengarkan penjelasan, apalagi mengerti.
Aku ingat akan Michael Angelo. Bukannya membandingkan diriku dengan orang besar seperti dia. Tapi aku harus mengakui paling tidak aku paling tahu (kalau tidak boleh mengatakan paling pintar) urusan teknik informatika & multimedia di keluarga besar ini.
Kembali ke Michael Angelo. Dia banyak mengalami penindasan dan pemaksaan dari para petingginya yang notabene pembesar-pembesar gereja jaman itu, untuk mewujudkan obsesi mereka. Tak ada jalan lain kecuali melaksanakan dan melaksanakan. Kalau terbentur kesulitan, hanya bisa berdoa, berbicara kepada sahabat setia, Allahnya - Allahku.
Seorang pintar yang tidak terlibat pada politik biasanya memang makanan empuk politikus-politikus besar. Mereka punya obsesi tapi tak tahu bagaimana mewujudkannya, bahkan seringkali tak tahu "apa obsesi"nya itu sendiri. Mereka kira segalanya gampang karena melihat orang pintarnya bisa melakukan dengan cepat, tanpa tahu bagaimana orang menjadi pintar tidak dengan hanya mengedipkan mata.
Kemiskinan dan kesepian orang pintar sulit dibayangkan, kalau tidak pernah mengalaminya.
Kemarin saya mendapat peneguhan lewat email dari seorang yang tidak terlalu dekat denganku, dia bilang: "...... you are very efficient, but remain insignificant... just like many other great people". Aku suka kalimat ini bukan karena disamakan dengan orang-orang besar, tapi karena ada orang yang bisa melihat unsur "insignificant" yang kurasa menjadi panggilan hidupku, panggilan hidup wong cilik.

No comments:

Post a Comment