Friday, July 25, 2008

Kantong baru .....

Kalau anda melihat gambar gereja di samping ini, mana kira bahwa letaknya ada di Roma, tempat ratusan gereja-gereja antik berada.
Kemarin, kami mengadakan ziarah ke Chiesa di Dio Padre Misericordioso (Allah Bapa Berbelas-kasih), sebuah gereja yang (sama dengan kebanyakan gereja besar di Roma) dibangun atas ide/instruksi seorang paus - yakni Paus Yohanes Paulus II, dalam rangka menyambut millenium ke tiga. Bentuknya mengambil ide "bahtera Petrus" dengan tiga layar yang melambangkan Tritunggal Mahakudus. Lima lonceng tergantung di menara, melambangkan ke lima benua. Gereja ini dimaksudkan oleh Paus untuk merayakan Jubilee 2000, harus menghadirkan, dalam konsep arsiteknya, bahtera Gereja yang mengarungi milenium ke tiga, dan pada saat bersamaan, berterima-kasih atas kedudukannya, sebagai "bahtera Gereja Lokal" (gereja paroki) yang mengarungi distrik.

Melengkapi kesan dari luar, ketika memasuki gedung gereja yang kapasitasnya sekitar 500 orang ini, terasa suasana bersih, sederhana, agak kering. Berbeda sekali dengan kebanyakan gereja di Roma yang penuh hiasan dan lukisan, tak ada satupun lukisan menempel. Sebuah salib tua tergantung di altar utama. Menurut brosur yang saya temukan, salib itu dibuat abad ke 17 dan merupakan sumbangan salah satu gereja paroki di Roma.

Sebuah patung Bunda Maria nampak mungil di salah satu sudut, dengan "lilin-lilin buatan" (lilin memakai lampu sebagai ganti api) sebagaimana ada juga di kebanyakan gereja di Roma.
Gereja ini merupakan Gereja Paroki, yang mempunyai website di :
http://www.diopadremisericordioso.it/

Kami datang agak terlalu awal. Sesuai jadual yang terpasang di depan pintu gerbang, pintu dibuka pk. 7.30. Seorang pria kurus setengah muda (yang belakangan baru saya tahu bahwa beliau adalah salah satu dari tiga imam di paroki itu), menyiapkan perlengkapan misa lalu duduk berdoa ofisi di salah satu bangku umat, sementara lagu instrumen lembut menggema.

Puas berkeliling, saya duduk dan berdoa sambil menikmati suasana yang agak beda ini. Saya teringat suasana gereja-gereja di Jakarta. Sekitar pk. 8.30, sedang enak-enaknya meditasi sambil setengah mengantuk, saya dikejutkan oleh masuknya sekitar empat perempuan cukup tua yang kemudian duduk dan mulai berdoa rosario keras-keras. Gema dalam gedung membuat suara mereka makin menggaung. Langsung bayangan Jakarta menghilang dan mendarat kembali ke gereja paroki di rumah kami. Perempuan-perempuan tiga perempat tua biasa datang dan berdoa rosario dengan suara mereka yang khas.

Misa berjalan lancar dan laju dengan umat (selain kami) sekitar 12 orang hampir semua cukup tua. Seusai misa, pastor paroki langsung menghilang di balik altar. Karena penasaran dengan keterangan dalam brosur yang menyatakan adanya relief "jalan salib Bapa Berbelas-kasih", kami mengejar pastor untuk bertanya sambil .... biasa.... cari toilet.
Pastor menerima dengan baik, dan beliau menerangkan bahwa relief seharga total 19.000 euro itu masih dalam pengerjaan. Relief itu merupakan duplikat dari yang ada di Vatikan.

Hal yang menarik dan patut direnungkan, mampukah "bahtera megah design dan konstruksi milenium ke tiga" ini membawa "muatannya yang adalah dari abad-abad sebelumnya"? Siapakah yang dihadirkan sebagai nahkoda? Siapakah yang dilambangkan oleh Salib tua itu? Dan relief replika yang ada di Vatikan? Yesus dan BapaNya yang tetap sama atau kekakuan pada "garis-garis" masa lalu?

Kantung memang sudah baru .... semoga ia bertahan mengantungi anggur lama dan bahkan mengubahnya menjadi rasa baru.

Suatu pesan menantang yang sudah dibayar mahal semahal bangunan gereja yang unik ini.
Amen!

No comments:

Post a Comment