Kemarin, di tengah saat makan malam, seorang saudari dengan berapi-api menceriterakan adanya mujijat atas perantaraan seorang kudus. Spontan saya berbisik, "kasihan, deh.... betapa jauhnya Allah kita sehingga selalu butuh pengantara"
Beberapa waktu yang lalu, beberapa saudari harus mengadakan perjalanan ke luar Italia. Karena kami orang asing, kami butuh surat ijin tinggal untuk bisa kembali ke sini. Payahnya, surat ijin tinggal begitu sulit didapat meskipun untuk para religius kepengurusannya di bawah Vatikan. Untuk beberapa beliau, karena katanya "kepepet", mereka meminta "katebeletje" dari seorang saudara yang cukup berkedudukan di kantor Vatikan. Alhasil, beres, deh.
Saya ingat juga, ketika ada saudari yang tidak diterima di salah satu universitas karena gagal tes, akhirnya bisa masuk karena ada katebeletje dari salah satu saudari yang lain.
Lingkup lebih kecil, suatu saat saya tidak mengganti salah satu mesin kantor dari seorang pejabat, karena menurutku itu masih bisa dipakai sampai suppliesnya habis baru diganti. Tapi karena tidak sabar dan merasa sangat perlu, maka pejabat tersebut datang ke pejabat lebih tinggi. "Katebeletje"pun keluar... masak ya aku mau membelot ... hehehe...
Beberapa hari yang lalu, ketika saya kesulitan dalam masalah teknis, saya datang ke salah satu orang kudus. Minta katebeletje? NO! Saya minta bantuan ketenangan, karena saya butuh teman yang bisa saya ajak omong, tempat berkeluh-kesah, tempat diskusi, tempat bertanya dsb. dsb.
Ketika saya menceriterakan bantuan orang kudus pelindung kami, para saudariku lebih menekankan mujijat bahwa masalah teknis teratasi. Mereka kira aku butuh katebeletje untuk minta bantuan Allahku. Biasanya, aku tidak pernah minta bantuan orang kudus manapun, dan aku juga selalu mendapat mujijat. Kitab Suci bilang, "hanya satu pengantara kita", yakni Yesus sendiri.
So, ada dua hal yang perlu direfleksikan. Soal katebeletje dan soal bantuan orang kudus. Aku lebih suka menyebut "bantuan" daripada "pengantara". Kita tidak perlu pengantara untuk datang pada Allah kita, wong Allah udah datang duluan kepada kita. Cuman seringkali kita perlu "teman" untuk bisa melihat Allah dan datang kepadaNya. Kita ndak butuh makelar, apalagi pakai komisi (berupa bunga, pujian, lilin dsb).
Soal katebeletje, dulu kukira hanya ada di tanah air tercinta. Tapi rupanya di gereja sampai unsur struktur terendahnyapun cukup menikmati barang ini. Mau apa lagi? Siapa yang salah? Orang di penjara? Ya bukan, dong .... justru orang yang paling bebas ... orang yang punya kebebasan untuk melestarikan barang ini (boleh diinterpretasikan secara bebas = para petinggi yang punya kuasa menerbitkan katebeletje) , apalagi yang menikmatinya dengan tahu dan mau(boleh diinterpretasikan secara bebas=para bawahan yang memanfaatkannya). Berdosakah? That's not my business..... ngeri deh bicara urusan dosa...
No comments:
Post a Comment