Ketika itu, saya masih di Indonesia, masih jauh lebih muda, ada kegiatan yang populer disebut "live in". Dikatakan, dengan program live ini, kita melakukan "insersi" ke tengah masyarakat. Entah apakah kegiatan ini sekarang masih populer. Beberapa jenis program yang saya ketahui a.l. tinggal di tengah keluarga di pelosok pedesaan, melakukan pekerjaan-pekerjaan sebagai tukang-sampah - penjual koran - pekerja pabrik, dsb...
Kemarin, saya mengadakan ziarah ke Netuno, tempat St. Maria Goretti pernah hidup dan jadi martir. Dari Roma kami naik kereta. Saya sendiri tidak tahu persis lokasi gereja tempat ziarah, maka sesuai pesan beberapa teman, saya ikuti arah orang banyak berjalan. Muncul keraguan ketika orang banyak berjalan ke arah pantai, tempat orang mandi dan berjemur. Untunglah kulihat dua suster yang berjalan juga ke arah itu. Yakin bahwa suster-suster itu akan ke "tempat suci", maka kuikuti jua arus orang banyak.
Benarlah, menara gereja nampak dari kejauhan, ditengah keramaian pantai. Aku berjalan menyusuri jalan, kenanganku jauh ke pantai Sanur di masa kecilku, penuh dengan turis berjemur setengah telanjang.
Akhirnya kutemukan gereja yang didedikasikan bagi St. Maria Goretti. Gereja itu letaknya tepat di seberang pantai yang penuh payung-payung pantai, dan manusia mandi dan berjemur di mana-mana. Penjual kaki limapun ada di sepanjang jalan. Sedikit lebih bersih dan rapi daripada Kenjeran (di Surabaya).
Kami memasuki gereja, kebetulan ada Misa hari Minggu. Penuh! Lalu kami mengunjungi kapel St. Maria Goretti. Juga banyak orang berdoa! Banyak peziarah.
Yang menarik, tidak banyak yang membawa kamera, dan kebanyakan berbahasa Italia. Dugaan saya, mereka orang-orang lokal, orang-orang Italia maupun non Italia yang tinggal di Italia sekitar tempat ini, termasuk Roma. (sekitar 60 km dari Roma).
Yang mengesankan, begitu keluar gedung gereja, kita melihat pemandangan pantai penuh sesak itu. Orang-orang setengah telanjang berjalan santai, minum es krim, belanja, dsb. Opo tumon?
Saya teringat ketika saya ada di Filipina beberapa tahun yang lalu. Hampir di setiap mall, kita bisa mendapati kapel. Selalu ada misa di hari Minggu/ pesta di kapel-kapel dalam mall itu. Dan, umumnya dengan pastor-pastor "pilihan". Sebelum dan sesudah misa, orang bisa belanja dan berekreasi di mall. Sedangkan di gereja-gereja lebih tua, yang didirikan sebelum munculnya mall-mall, umumnya kita bisa mendapati mall/ pertokoan di dekatnya. Bahkan banyak yang tepat di samping gereja berdiri mall megah. Lay-out seperti itu memang membantu keluarga untuk berhari Minggu, jasmani-rohani, tanpa harus repot-repot cari parkir di tempat berbeda. Bahkan saya yakin ada banyak alasan lain. Bisnis? Membisniskan gereja? Jangan menghakimi dulu. Baiklah kita melihat konteks yang lebih integral daripada sekedar membandingkan dengan ceritera Yesus membalikkan meja penukar uang di sinagoga.
Saya tidak ingin berkhotbah ataupun beropini di sini. Saya membuka artikel saya dengan "live in" dan "insersi", karena refleksi saya bermuara ke sana .... Why not?
No comments:
Post a Comment