Sore ini kami ada latihan koor. Kami berlatih satu lagu dari Amerika Latin berbahasa Spanyol berirama riang dengan birama 2/4. Lagu-lagu Amerika Latin umumnya ringan dan riang, gampang dinyanyikan. Satu lagu ini memang agak unik karena tiap bait ada sedikit variasi nada yang menurutku membuat lagu ini indah didengar, tapi tentu saja agak sulit untuk dinyanyikan apalagi jika penyanyinya buta not. .... Maka mulailah terjadi protes. Protes pertama, menyalahkan penulis not - salah ketika menterjemahkan lagu (audio) ke not-not musik. Kemudian protes kedua, karena mestinya dengan gitar maka organ membuat lagu tidak bisa dinyanyikan. ... Dan mulailah muncul usulan (baca: desakan) untuk mengubah not, mengubah panjang nada dsb. Bingunglah aku, ya jelas tidak pas dengan biramanya lagi ......
Kemarin, dengan anggota koor yang sama, kami berlatih lagu ordinarium misa. Kali ini penggubah lagu yang menulis not-notnya, jadi pasti tidak salah. Nah, not ditulis lengkap dengan suara 1, 2 dan 3. Lagu berbahasa Italia, penggubahnya bangsa Polandia yang lama di Amerika Latin. Nada indah sekali, tapi para penyanyi suara 3 kesulitan. Mulailah terjadi protes, "penulis lagu kok bikin nada yang sulit dinyanyikan untuk suara 3" ..... Lalu ada usulan (baca: desakan), untuk membatalkan lagu "yang sulit" ini.
Aku tahu, ada orang yang kalau dengar lagu suara 1, otomatis bisa menyanyi/ menimpali suara 2 dan suara 3nya. Dan kali ini, "nada otomatis" mereka tidak cocok dengan not yang ditulis penggubah lagu/ musik.
Ketika kelompok memutuskan untuk tetap memakai lagu ini, para pemrotes menyanyi sambil mengomel "...... how if like that until the day ....."
Bingunglah aku, .............
Aku sebagai organist protes besar, tapi apa daya ... namanya juga wong cilik...
Sebenarnya aku tidak perlu bingung apalagi heran kalau aku melihat realita bahwa:
1. para penyanyi (pemrotes-pemrotes) adalah wong gede kabeh. (boss, pemimpin)
2. para penyanyi (apalagi pemrotes-pemrotes) tidak bisa baca not musik, apalagi memahami musik.
Terpaksa aku harus "memperkosa" musik orang lain dengan hati yang terluka.....
Aku ingat satu temanku pernah bilang "lebih baik tidak tahu daripada tahu namun tidak bisa berbuat apa-apa". Wong cilik itu bukan wong idiot, jadi wong cilik itu tahu ....... tapi ..
Itukah poverty?
No comments:
Post a Comment