Tuesday, July 1, 2008

blogger vs jurnalisme

Ada ceritera (ini fiktif, kalau kebetulan ada yang pas trus tersinggung ya bukan tanggung-jawab beta), tentang si Ana yang bersuamikan Ano. Pengantin baru, mesra. Lalu si Ana mengandung anak pertama mereka, bahagia - makin mesra. Ketika Anu, putra pertama lahir, suka-cita. Ana sangat mencintai Anu, pagi siang petang dan malam, main dan ngurusin si Anu melulu. Lama-kelamaan mulailah Ano merasa tersingkirkan.... mengeluhkan si Anu yang mengganggu tidur kek ... dsb. dsb.... merasa kalah saingan rupanya .... trus cemburu ... kok bisa?
Pasti kita komentar ... wong anak sendiri kok dicemburui? Bapak dan anak kan ya lain, masak ya ibu bisa meninggalkan bapak ........ dst... dst....

Ndak tau ada hubungannya atau tidak dengan ceritera di atas, kemarin saya membaca beberapa artikel tentang blogger vs. jurnalisme. Kalau mau tahu bagaimana serunya perdebatan, silakan aja google "blogger vs. journalism". Ada juga yang meng-counter dengan media cetak tradisional.
Lho?!!

Blog itu wadah bebas tapi bertanggung-jawab. Bebas, siapa saja bisa membuat account, trus buka blognya. Bebas, mau dipublikasikan umum atau sebagian, atau mau dibaca sendiri aja. Yang mbacapun bebas, mau baca silakan, ndak suka ya klik aja tutup. Ndak ada sensor? Ya ada dong. Ada aturan mainnya. Tapi yang paling utama adalah tanggung-jawab pribadi.
Blog punya segi positif dan negatifnya sendiri. Blog murah, cepat, dan bisa cukup akurat, karena tidak ada kontrol ketat penguasa dunia. Ndak ada ketakutan. Tapi ya bisa juga omong-kosong, tentunya. Siapa bilang media cetak tidak bisa omong-kosong?

Dulu wong cilik menggubah lagu ndang-dut untuk mengutarakan isi hati, itu bisa didengar orang sedusun dan kalau melodinya enak pasti bisa sekabupaten bahkan lebih. Sayangnya menggubah lagu kan ya tidak gampang. Buat orang sekarang (contohnya aku ini), jadi blogger ya lebih enteng.

Kenapa "blog" yang lebih dipermasalahkan daripada website news resmi?

Saya punya tanggung-jawab mengurusi paling tidak tiga website "resmi". Kalau salah post satu gambar kecil aja bisa jadi masalah besar. Apalagi misuh... hehehe..... bisa kualat.
Karena itulah saya buka blog ini. Bukan untuk misuh, apalagi cari musuh lho. Saya bertanggung- jawab atas apa yang saya muat di sini.

Kemarin saya baca berita bahwa di Scotland sedang diupayakan legalisasi undang-undang yang memberi hukuman kepada orang yang mengirim email kurang ajar... Entah kalau kapan-kapan ada ide untuk menghukum blogger kurang ajar. Tapi kurang-ajar atau tidak, itu dulu yang perlu didefinisikan.

Kembali ke kisah Ana dan Ano. Walah .. walah .., namanya juga lagi lucu-lucunya, biar aja Ana terus ke Anu ... kan bapak dan anak itu laen, cintanya juga laen... Semua akan kembali kepada proporsi dan disposisinya secara alamiah .....

Banyak blogger muncul, lama-lama kan ada seleksi alamiah. Kalau ndak ada mutunya ya siapa mau baca. Kalau tidak ada yang baca, ya biar aja nongkrong di server dibaca penulisnya sendiri. Kok ribut??

Kalau blogger-blogger makin hebat dan bermutu trus tidak ada yang mau baca koran? .... ah, tanya aja sama yang punya koran ....

No comments:

Post a Comment