Alkisah, di negara AntahBelece, hiduplah seorang pangeran di istananya yang megah bermenara tinggi. Sang Pangeran sering mengamati rakyatnya dari ketinggian, dan sebagai pencinta lukisan, ia tertarik pada seorang pelukis jalanan di pasar di belakang istananya.
Pada suatu hari open house, dia menyelenggarakan pameran lukisan terbesar di dalam istana yang terbuka untuk umum. Namanya juga terbuka untuk umum, maka undangan juga diumumkan secara terbuka di surat kabar maupun di selebaran-selebaran termasuk yang ditempel di depan kantor pasar krempyeng tempat pelukis jalanan bekerja sehari-hari. Melihat itu, betapa ingin hati si pelukis untuk melihat pameran itu, tapi apa daya - merasa sebagai wong cilik yang tidak layak untuk menginjak istana megah itu. Ketika keinginannya disampaikan kepada teman-temannya yang tak lain para penjaja di pasar itu, mereka menjawab: "ya mana mungkin kowe masuk ke sana, bisa-bisa diusir satpam. " Sedihlah hati pelukis itu. Semalam-malaman hatinya gelisah karena keinginannya, dan dia ingat ketika bapaknya memasukkannya ke SD Inpres tanpa SPP, bapaknya harus meminta surat kepada pak lik temannya yang kebetulan sahabat pak Lurah. Maka diapun ingat akan seorang temannya yang pak liknya menjadi satpam di istana itu.
Keesokan harinya, si pelukis tidak muncul di pasar seperti biasanya, dia menemui temannya itu dan bersama-sama menemui pak satpam istana. "Gampang, ini kuberi surat pengantar, pasti engkau diterima di sana dengan baik", demikian kata si pak lik sambil memberi satu surat dalam amplop. Maka tenanglah hati si pelukis. Disiapkannya baju terbaik untuk acara impiannya.
Demikianlah, pada hari H, sebelum jam buka, sang Pangeran mengumpulkan para satpamnya. Dia berpesan:"Ingat, Pameran ini terbuka untuk umum. Jangan menolak siapapun, darimanapun dan bagaimanapun pakaiannya. Perlakukan semua dengan adil dan ramah. Tapi ada satu perkecualian. Saya sangat terkesan pada pelukis di pasar di belakang istana kita ini. Seandainya dia datang, bawalah kepadaku dan siapkan santapan bersamaku"
Persis pada jam buka, si pelukis dengan mantapnya antri masuk membawa amplop surat pengantar dari pak lik satpam. Hati berdebar-debar. Sengaja amplop itu dipegangnya supaya orang melihat bahwa dia mempunyai surat pengantar dan tidak diusir. Ketika melihat si pelukis, petugas penjaga pintu menyetopnya. Hatinya makin berdebar, ketika beberapa petugas membawanya dengan jalan khusus. Dengan keringat dingin, dia berusaha menjelaskan bahwa dia punya surat khusus. Tapi kelihatannya para petugas tidak terlalu peduli. Kecemasannya makin besar ketika dia tahu bahwa dia akan menghadap Sang Pangeran. "Celaka, surat pengantar ini rupanya tidak ada gunanya, mungkin pak lik itu cuma satpam kecengan yang tidak punya kuasa apa-apa", demikian gerutunya.
Hampir terkencing sudah karena ketakutan, ketika dia melihat Sang Pangeran datang sambil tersenyum dan menyapa. Sebelum ditanya, cepat-cepat dia menyodorkan surat pengantar dan nyerocos: "Kanjeng, saya datang atas ijin pak lik satpam. Ini surat pengantarnya". Sang Pangeran sambil tersenyum menerima surat itu, menyobek dan menunjukkan isinya kepada sang pelukis. KERTAS KOSONG!!
Para pembaca, kalau bertanya-tanya tentang latar belakang artikel ini, silakan baca tulisan saya kemarin tentang katebeletje.
No comments:
Post a Comment